Jumat, 21 Desember 2018

"Keluarkan" atau "Pendam" ??

Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh,,
Terkadang kita sering menghadapi suatu peristiwa yang tidak kita sukai bahkan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Sehingga ketika peristiwa itu terjadi kita sering marah bahkan sampai menyiksa diri ikita sendiri. Lalu bagaimanakah sebaiknya kita menyikapi kemarahan tersebut. Apa yang seharusnya kita lakukan mengeluarka kemarahan tersebut atau justru harus memendamnya?? 

       Apa yang sering anda lakukan ketika anda marah? apakah anda sering menyatakannya atau malah hanya diam saja. Mengumpulkan kekesalan anda seperti anda menabung di bank, atau anda akan meledak dan melampiaskan kemarahan tersebut kepada orang lain atau apapun yang berada disekitar anda? Apakah anda mendiskusikan masalah anda setelah anda tenang? Apakah "mengeluarkan kemarahan" membuat kemarahan tersebut hilang dari diri anda, atau malah membuat perasaan itu semakin kuat? Jawaban dari pertanyaan ini dalah sesuatu yang vital dalam hubungan anda dengan keluarga, tetangga, atasan dan orang lain. 

Perasaan marah yang kronis dan ketidakmampuan mengendalikan kemarahan tersebut dapat menyebabkan kerugian emosional dan merupakan sesuatu yang tidak sehat, seperti halnya masalah depresi atau kecemasan yang kronis. sedangkan menurut kebanyakan nasihat psikologi populer, penelitian menunjukan bahwa mengekspresikan kemarahan tidak selulu membuat kemarahan itu hilang dari diri anda. sering kali orang akan menjadi merasa lebih buruk setelah mengalami konfrontasi kemarahan, baik secara fisik, maupun secara mental. saat orang mengekpresikan kemarahan mereka dan mengulang - ulang seberapa besar kemarahannya atau menyalurkan perasaan tersebut melalui tindakan yang kasar, sering kali mereka mengalami peningkatan tekanan darah, merasa lenih marah, dan berperilaku lebih agresif, dibandingkan apabila mereka hanya membiarkan perasaan marah tersebut menghilang denagan sendirinya (Bushman dkk.,2005)

Saat orang belajar mengendalikan perasaan marah mereka, dan mengekpresikan perasaan marah dengan cara yang konstruktif, biasanya mereka akan merasakan lebih baik dan tenang alih - alih menjadi semakin marah atau memburuk. Charles Darwin (1872/195), sekali lagi, mengeluarkan pernyataan yang tepat, "Pengekspresian emosi secara bebas, baik melalui isyarat verbal maupun nonverbal, kan meningkatkan intensitas emosi tersebut. 
Ia yang membiarkan munculnya bahasa tubuh yang kasar akan meningkatkan kemarahannya tersebut. 


Nah jadi udah taukan kalau lagi marah kita harus gimana?? hhehehe kalau bisa jangan sering - sering marah yaa.. 
Mungkin ini yang bisa bagi.. terimakasihh.. 

Inteligensi

Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.. 
Salam sejahtera untuk kita semua.. Pada tulisan kali ini saya akan berbagi informasi  mungkin sudah lama kalian pertanyakan sebelumnya. Bagaimana sih mengukur intelegensi manusia?? Baiklah berikut akan saya berikan jawaban. semoga membantu :)

⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣⇣
Sangat sulit untuk mendefinisikan intelegensi. beberapa ilmuan menyakini adanya kemampuan umum yang merupakan dasar dari banyak kemampuan spesifik yang terukur melalui tes intelegensi., sedangkan  beberapa ilmuan lainnya tidak menyetujui pendapat tersebut. ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengukur intelegensi seseorang, yaitu..
 Pedekatan Psikometri, sebagai pendekatan tradisional terhadap intelegensi, berfokus pada seberapa baik kinerja seseorang dalam memgerjakan tes kemampuan umum yang distandarisasikan. Intelligence Quotient (IQ) mereprentasikan skor yang dicapai oleh orang - orang lainnya. Alfred Binet mengembangkan tes intelegensi pertama untuk mengidentifikasi anak - anak yang memerlukan perhatian tambahan di sekolahnya. Mskipun demikian, orang Amerika berasumsi bahwa tes intelegensi memperhatikan "kemampuan Alam" yang dimiliki seseorang dan kemudian menggunakan tes intelegensi untuk mengelompokan orang menjadi berbagai "strata" di dunia pendidikan dan di dunia militer. 
Namun tes ini IQ ini dikritik karena memiliki bias yang menguntungkan bagi kalangan kulit putih dan ekonomi menengah. Pengembangan tes intelegensi ini yang terbebas dari unsur budaya sejauh ini menunjukan hasil yang mengecewakan.  Budaya mempengaruhi hamoir semua aspek  tes intelegensi, mulai dari sikap hingga strategi pemecahan masalah. Streotip negatif etnis, jenis kelamin, atau usia seseorang dapat menyebabkan orang tersebut mengalami ancaman streotip (streotype threat) yang dapat meningkatkan kecemasan atau "disidentifikasi" dalam mengerjakan tes intelegensi. 

Sekian yang saya sampaikan, semoga bermanfaat dan membantu.. Terimakasih

Minggu, 16 Desember 2018

Manusia dan Sistem Ganda


Seorang manusia itu sangatlah rumit. Setiap individu terdiri atas berbagai organ yang ada didalamnya dan anggota di bagian luarnya. Setiap organ dan anggota tubuh mempunyai fungsi yang berbeda - beda, namun bekerja sama supaya manusia itu hidup. Organ di bagian dalam tubuh dapat dilihat melalui alat yang berkembang sesuai dengan teknologi modern. Anggota tubuh dapat dilihat dari luar. Tidak semua fungsi dapat dilihat kasat mata. Perlu peralatan khusus untuk mengamatinya. Kepala ada diatas dan didalamnya ada otak yang berkembang sesuai dengan evolusi manusia selama berabad - abad. 

Dalam ilmu psikologi manusia sebagai sistem organismik. Pada tingkatan yang lebih rendah dari sistem organismik, yaitu sistem sel, sudah seribufaktor yang mempengaruhi fungsiny. Belum lagi adanya kemajuan bioteknologi. Telah ditemukan cetak biru manusia, yaitu Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) dan Ribonucleic Acid (RNA) yang sudah dapat dipetakan untuk masing - masing orang. Dari sehelai rambut atau sepotong kuku kecil saja sudah dapat dipetakan DNA  seseorang. Ditemukannya DNA mempermudah polisi untuk melacak dan menentukan pelaku kejahatan. Dengan ditemukannya cetak biru tersebut, seorang manusia saja sudah terdiri dari beribu bahkan berjuta kombinasi faktor. Makin rumitlah tubuh manusia berikut fungsinya. 

Selain dari sistem sel,manusia juga dapat dilihat dari sistem organ, organisme, keluarga, kelompok, masyarakat, organisasi, maupun global. Pelayanan psikologis dapat diterapkan pada sistem organisme sampai sistem global. Hanya saja para psikolog sendiri sering menekankan bahwa mereka hanya memberikan pelayanan perseorangan saja. Psikolog juga lebih sering meneliti manusia sebagai makhluk individual saja. Dengan kata lain, psikolog hanya memperhatikan manusia sebagai sistem organismik saja. Pelayan psikologis pada individu dan keluarganya disebut pelayanan mikro. 

Bayangkan, satu manusia saja begitu rumitnya. Banyak ilmu pengetahuan dikembangkan untuk menerangkan seseorang manusia. Psikoloi salah satunya. Ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia memang relatif masih baru. Para dokter yang tidak puas dengan ilmu pengetahuan tentang tubuh manusia mengembangkan psikologi klinis. Mereka yang tertarik untuk menerangkan perilaku manusia dari tubuhnya mengembangkan psikologi biologis, atau apabila mengembangkan fungsinya disebut psikologis fisiologis. Psikologi umum dikembangkan untuk diperkenalkan pada mahasiswa dan orang awam yang ingin mempelajari perilaku manusia pada umunya. 

"Keluarkan" atau "Pendam" ??

Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh,, Terkadang kita sering menghadapi suatu peristiwa yang tidak kita sukai bahkan tidak per...